REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Masjid Tan’im merupakan lokasi Aisyah melakukan miqat ketika umrah. Karena itu, masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Aisyah. Saya tidak mengingat persis berapa kali saya mengunjungi masjid ini. Tapi, semuanya pada malam hari. Biasanya, kami berangkat menjelang dini hari, sekitra pukul 22.00 atau 23.00 waktu setempat.

Saifullah yang bertugas mengantarkan tim Media Center Haji 2015 akan mengendarai mobil ke arah utara Masjidil Haram. Pada musim haji tahun lalu, suhu Kota Makkah pada malam hari ‘hanya’ 28 derajat celcius. Bagi kami, udara itu sudah terasa sejuk dan layak disyukuri. Saya pun sangat menikmati udara malam Kota Makkah ketika mobil melaju ke daerah al Hil.

Masjid ini berada di pinggir jalan menuju Madinah, berjarak sekitar 7,5 kilometer Masjid Haram. Ketika menuju Masjid Tan’im, kita bisa melihat Menara Zam Zam-yang berada di depan Masjidil Haram-menjauh. Pun demikian ketika mobil bergerak menuju Masjidil Haram, Menara Zam Zam bakal mendekat. Pemandangan yang terkadang perasaan senang karena adanya kesadaran “aku akan menuju Masjidil Haram.”

Masjid Tan’im merupakan lokasi miqat terdekat bagi warga Makkah dan jamaah yang hendak melakukan umrah. Karena itu, masjid ini tidak pernah sepi jamaah. Rombongan jamaah dari berbagai negara silih berganti berdatangan di masjid ini.

Sebagian besar datang dalam rombongan besar menggunakan bus berukuran besar. Masjid ini memiliki area parkir yang cukup besar. Sebagian lainnya menggunakan angkutan umum. Sejumlah angkutan umum berupa minubus dan taksi berjejer, yang hampir semua menawarkan jasa angkutan menuju Masjidil Haram. “Haram, Haram,” teriak para sopir memecah keheningan malam di sekitar masjid.

Sebagian besar jamaah yang tiba di Masjid Tan’im sudah mandi dan berganti pakaian ihram ketika turun dari kendaraan. Di Tan’im, mereka akan menyempurnakan dengan berniat dan shalat. Namun, jamaah yang ingin mandi juga tidak perlu khawatir.

Masjid ini memiliki fasilitas yang lengkah untuk jamaah yang hendak berihram. Ada kamar mandi bagi mereka yang ingin mandi atau berganti ihram. Ada tempat wudhu yang dilengkapi dengan tempat duduk. Tidak punya kain ihram juga bukan halangan. Ada toko-toko yang menjual keperluan ihram di masjid ini seperti kain ihrom, ikat pinggang . Jamaah juga dengan mudah menemukan air zam zam di depan masjid. Soal kebersihan, masjid ini cukup bersih. Masjid juga dilengkapi pendingin udara dan permadani yang empuk.

Ada beberapa hal lain yang cukup saya nikmati setiap kali berada di masjid dengan luas keseluruhan 84 ribu meter persegi ini. Seperti halnya di Masjidil Haram, saya bisa mencermati ihram perempuan. Misalnya, mukena hanya dikenakan oleh jamaah perempuan dari Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Jamaah dari Thailand juga kerap menyematkan bros berbentuk bunga di penutup kepalanya.

Hal lainnya aktivitas anak-anak di Masjid Tan’im. Masjid Tan’im tidak hanya mempunyai dua menara setinggi 50 meter. Masjid Tan’im memiliki area yang ditumbuhi rerumputan dan taman. Beberapa kali, saya menuju Masjid Aisyah pada Jumat atau Sabtu dini hari yang merupakan akhir pekan di Arab Saudi.

Pada akhir pekan, tidak hanya peziarah yang terlihat di masjid ini. Keluarga yang membawa anak-anak juga terlihat di halaman masjid ini. Beberapa anak tampak bermain ayunan di halaman masjid. Bahkan, saya pernah melihat seorang anak bersepeda di pelataran masjid. Masjid menjadi ruang publik anak-anak menjadi akrab dengan lingkungan masjid sejak kecil. Orang tua bisa mengawasi anak-anaknya ketika beribadah.

Redaktur : Agung Sasongko