REPUBLIKA.CO.ID, Mina menjadi tempat Nabi Ibrahim AS melempar jumrah dan menyembelih domba sebagai pengganti Ismail.

Lembah ini layaknya padang pasir biasa di kawasan Timur Tengah. Namun, padang pasir yang terletak sekitar lima km di sebelah timur Makkah ini punya keistimewaan. Lembah istimewa itu dikenal dengan Mina.

Posisinya berada di antara Kota Makkah dan Muzdalifah. Dalam buku Sejarah Kota Mekkah karangan Muhammad Ilyah dijelaskan penyebutan Mina karena di sinilah tempat tertumpahnya darah.

Selain itu, juga dikatakan sebagai tempat berkumpulnya manusia. Orang Arab menyebut setiap tempat berkumpulnya manusia dengan Mina.

Dikutip dalam buku Ensiklopedia Haji dan Umrah, Kota Mina disebut juga oleh orang Arab dengan nama Muna yang maknanya pengharapan. Penamaan ini erat kaitannya dengan kisah nenek moyang manusia, Adam dan Hawa.

Menurut kisahnya, di Mina ini Nabi Adam mendapat bisikan berisi harapan dia akan bertemua istrinya, Hawa. Pertemuan antara Nabi Adam dan Hawa kemudian baru terjadi di Jabal Rahmah, sebuah bukit kecil di kawasan Padang Arafah.

Mina termasuk dalam Masy’aril Haram (Bukit Quzah di Muzhdalifah). Di sinilah Ibrahim melempar jumrah dan menyembelih domba sebagai pengganti Ismail. Di sini juga tempat Rasulullah melempar jumrah dan menyembelih kurban saat pelaksanaan haji wada.

Mina menjadi lokasi transit bagi jamaah haji sebelum menuju Arafah dan sekembalinya dari sana. Kini, padang pasir ini telah dipenuhi oleh ribuan tenda yang diperuntukkan bagi jamaah haji dari seluruh dunia.

Mina menjadi tempat peristirahatan bagi jamaah haji. Sebelum wukuf di Arafah, jamaah akan mendatangi Mina dan bermalam di dalam tenda-tenda tersebut. Jamaah biasanya bermalam pada 9, 11, dan 12 Dzulhijah.

Setelah shalat Subuh pada 9 Dzulhijah, jutaan jamaah haji pun beramai-ramai berjalan kaki menuju Padang Arafah untuk melakukan inti haji, yaitu wukuf. Jamaah haji datang lagi ke Mina setelah selesai melaksanakan wukuf di Arafah.

Selain untuk bermalam kembali di tenda-tenda yang telah disediakan, jamaah haji juga wajib melempar jumrah. Kerikil dan batu bisa dilemparkan di tiga tempat atau lokasi melempar jumrah, yaitu jumrah aqabah, wusta, dan ula.

Di jumrah tersebut, dibuat pilar-pilar putih sebagai perlambang setan yang kemudian akan dilempari dengan oleh kerikil oleh para jamaah haji. Luasnya tempat untuk melempar jumrah ini sangat terbatas, tidak sebanding dengan jumlah jamaah haji setiap tahunnya.

Dari laman resmi Kementerian Agama, dijelaskan adanya rencana perluasan area ini menjadi Mina Jadid. “Jika dibandingkan dengan jumlah jamaah haji yang semakin banyak, tempat tersebut tidak muat dan harus diperlebar,” ujar Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kemenag Zubaidi.

Setelah menunaikan rukun melempar jumrah, jamaah haji yang melaksanakan nafar awal melaksanakan mabit (bermalam), yaitu pada 11 dan 12 Dzulhijah.

Sedangkan, bagi jamaah yang melaksanakan nafar tsani, bisa bermalam di Mina pada 12 hingga 13 Dzulhijah. Amalan untuk bermalam di Mina ini dilakukan Rasulullah SAW saat berhaji dan hukumnya sunah.

Artinya, ketika 9 Dzulhijah sebelum ke Arafah, jamaah haji tidak wajib bermalam di Mina. Namun, bagi yang tidak bermalam di Mina, harus membayar dam (denda).

Mina menjadi lokasi penyembelihan binatang kurban. Di sini juga berdiri Masjid Khaif yang merupakan masjid ketika Rasulullah melakukan shalat saat melaksanakan ibadah haji.

Disebut al-Khaif karena masjid itu berada di sebuah bukit batu yang landai jauh dari saluran air. Masjid ini terletak di sebelah selatan Bukit Mina, dekat dengan jumrah as-Sughra. Dalam Hadis Riwayat  at-Tirmidzi, Yazid bin Aswat berkata, “Aku ikut melaksanakan haji bersama nabi. Aku shalat Subuh bersamanya di Masjid al-Khaif.” Di belakang Masjid al-Khaif terdapat Gua al-Murshalat.

 

Redaktur : A.Syalaby Ichsan
Reporter : Rosita Budi Suryaningsih